![]() |
| Ilustrasi: Panic Buying BBM Jember, Ketika Rasa Takut Membuat Kita Menciptakan Kelangkaan. |
Bukan hanya soal panjangnya antrean.
Bukan pula sekadar soal apakah stok BBM tersedia atau tidak.
Yang jauh lebih menarik adalah bagaimana masyarakat bereaksi ketika mendengar sebuah kabar yang belum tentu benar.
Sebab dalam kasus ini, kita tidak hanya sedang berbicara tentang BBM.
Kita sedang berbicara tentang kepanikan.
Dan lebih jauh lagi, tentang bagaimana kepanikan yang dilakukan secara bersama-sama justru bisa menciptakan masalah yang sebelumnya mungkin tidak sebesar yang dibayangkan.
Semuanya berawal dari sebuah kabar
Mengutip detikJatim dalam artikel berjudul “Antrean di SPBU Jember Mengular Dipicu Isu Kenaikan Harga Malam Ini” yang terbit 4 September 2026, antrean panjang terjadi di sejumlah SPBU Jember setelah beredar isu mengenai kemungkinan kenaikan harga BBM pada awal September.
Antrean bahkan mengular hingga ke bahu jalan di sejumlah lokasi, termasuk SPBU Mlokorejo dan Jambearum di Puger, Jalan Ahmad Yani dan Kreongan di Patrang, serta Jalan Gajah Mada dan Mangli di Kaliwates. Dalam laporan tersebut, seorang warga mengaku harus mengantre sekitar 20–30 menit untuk mendapatkan Pertalite.
Pertanyaannya sederhana:
Apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat saat itu?
Masyarakat mendengar harga akan naik.
Lalu sebagian orang berpikir:
“Kalau memang besok naik, lebih baik isi sekarang.”
Kemudian orang lain melihat antrean.
Lalu berpikir:
“Wah, jangan-jangan memang BBM mau habis.”
Orang berikutnya melihat antrean yang semakin panjang.
Dan muncul pikiran:
“Kalau tidak isi sekarang, nanti saya tidak kebagian.”
Pada titik itulah rumor berubah menjadi perilaku massal.
Kita takut kehabisan, lalu membeli lebih banyak
Inilah paradoks dari panic buying.
Kita membeli lebih banyak karena takut barang habis.
Tetapi ketika semua orang melakukan hal yang sama pada waktu yang bersamaan, permintaan tiba-tiba melonjak.
Akibatnya antrean semakin panjang.
SPBU semakin ramai.
Orang yang awalnya tidak berniat membeli banyak akhirnya ikut membeli karena melihat antrean.
Dan orang yang melihat antrean tersebut semakin yakin bahwa memang sedang terjadi kelangkaan.
Terbentuklah sebuah lingkaran:
rumor → takut → membeli lebih banyak → antrean → melihat antrean → semakin takut → membeli lebih banyak.
Pada akhirnya, kita bahkan sulit membedakan mana masalah sebenarnya dan mana masalah yang tercipta karena reaksi kita sendiri.
Pertanyaannya: BBM benar-benar langka?
Di sinilah kita perlu berhenti sebentar.
Mengutip ANTARA dalam artikel berjudul “Pertamina pastikan stok BBM aman saat antrean panjang di SPBU Jember” yang terbit 5 September 2026, Pertamina Patra Niaga memastikan stok BBM bersubsidi maupun nonsubsidi di Jember dalam kondisi aman. Pertamina memang menyebut terjadi keterlambatan distribusi ke sejumlah SPBU akibat kemacetan di Pelabuhan Ketapang, tetapi masyarakat juga diminta tidak melakukan pembelian berlebihan karena dapat memperpanjang antrean akibat panic buying.
Artinya, kita harus membedakan dua hal:
gangguan distribusi dan kepanikan masyarakat.
Keduanya bisa terjadi bersamaan.
Namun keduanya bukan hal yang sama.
Dan justru karena itulah masyarakat perlu berhati-hati ketika menerima informasi mengenai kelangkaan BBM.
Jangan sampai antrean menjadi bukti dari rumor
Ini bagian yang menurut saya paling berbahaya.
Bayangkan seseorang menerima pesan:
“BBM mau naik.”
Dia kemudian pergi ke SPBU.
Ternyata antre.
Dia lalu menyimpulkan:
“Benar. Berarti BBM memang langka.”
Padahal antrean itu sendiri bisa saja merupakan akibat dari orang-orang yang sebelumnya percaya terhadap rumor yang sama.
Ini seperti sebuah lingkaran pembenaran.
Rumor menciptakan antrean, kemudian antrean digunakan untuk membuktikan rumor.
Padahal belum tentu demikian.
Mengutip detikJatim, Ketua DPC Hiswana Migas Besuki Ikbal Wilda Fardana menyebut kondisi stok maupun jalur pasokan BBM subsidi menuju Jember tidak mengalami kendala dan mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying. Pertamina juga menyatakan antrean lebih banyak dipengaruhi peningkatan konsumsi pada waktu tertentu, bukan kekosongan pasokan.
Ini pelajaran penting bagi kita semua.
Sebuah antrean tidak otomatis berarti sebuah barang sedang langka.
Kadang antrean hanya berarti terlalu banyak orang datang pada waktu yang sama.
Kita hidup di zaman ketika rumor bergerak lebih cepat daripada klarifikasi
Masalahnya, masyarakat hari ini tidak mendapatkan informasi hanya dari televisi atau koran.
Satu pesan WhatsApp bisa berpindah dari satu grup keluarga ke grup warga.
Satu unggahan media sosial bisa dibagikan ratusan kali.
Satu video antrean SPBU bisa membuat orang di wilayah lain ikut panik.
Dan masalah terbesar dari informasi semacam ini adalah:
orang biasanya membagikan sesuatu karena merasa informasi tersebut penting, bukan karena sudah memastikan informasi tersebut benar.
Akibatnya, informasi yang belum terverifikasi bisa bergerak jauh lebih cepat daripada klarifikasi resmi.
Ketika klarifikasi akhirnya muncul, masyarakat mungkin sudah terlanjur antre.
Tetapi jangan pula menyalahkan warga sepenuhnya
Di titik ini saya kira kita juga harus adil.
Tidak tepat jika seluruh persoalan dibebankan kepada masyarakat dengan mengatakan:
“Warga saja yang panik.”
Sebab masyarakat juga punya alasan untuk merasa khawatir.
Mengutip ANTARA, memang terdapat keterlambatan distribusi BBM ke sejumlah SPBU Jember akibat kemacetan di kawasan Pelabuhan Ketapang. Artinya, ada persoalan distribusi yang nyata di lapangan meskipun Pertamina menyatakan stok secara umum aman.
Jadi, masyarakat bukan panik tanpa konteks.
Ada antrean.
Ada keterlambatan distribusi.
Ada rumor kenaikan harga.
Ada pengalaman masyarakat terhadap gangguan pasokan sebelumnya.
Semua itu menjadi bahan bakar bagi kepanikan.
Karena itu, pemerintah dan Pertamina juga mempunyai pekerjaan besar:
memberikan informasi yang cepat, jelas, konsisten, dan mudah dipercaya.
Sebab semakin kosong ruang informasi, semakin mudah ruang tersebut diisi rumor.
Namun warga juga harus belajar
Di sisi lain, masyarakat juga tidak bisa selamanya menjadi konsumen informasi yang pasif.
Kalau setiap kabar kenaikan harga langsung dipercaya, kita akan selalu menjadi bagian dari masalah.
Kalau setiap video antrean langsung dianggap sebagai bukti kelangkaan, kita akan mudah digerakkan oleh persepsi.
Kalau setiap pesan berantai langsung diteruskan tanpa diperiksa, kita ikut memperbesar kepanikan.
Padahal kebutuhan kita sebenarnya sederhana.
Isi BBM ketika memang membutuhkan.
Bukan membeli sebanyak-banyaknya karena takut sesuatu yang belum tentu terjadi.
Sebab ketika seseorang membeli jauh lebih banyak daripada kebutuhannya karena takut kehabisan, dia bukan hanya mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
Dia ikut memengaruhi ketersediaan bagi orang lain.
Ada orang yang benar-benar membutuhkan BBM
Ini yang kadang terlupakan ketika kita bicara tentang panic buying.
Bagi sebagian orang, BBM bukan sekadar sesuatu yang ingin disimpan.
BBM adalah alat untuk bekerja.
Motor digunakan untuk berangkat kerja.
Mobil digunakan untuk mengangkut barang.
Kendaraan digunakan untuk mengantar anak sekolah.
Pedagang membutuhkan kendaraan untuk mengambil barang.
Petani dan nelayan membutuhkan bahan bakar untuk aktivitas ekonominya.
Ketika sebagian orang membeli secara berlebihan karena takut harga naik atau takut kehabisan, masyarakat lain yang hanya ingin membeli sesuai kebutuhan bisa ikut terkena dampaknya.
Maka persoalan panic buying sebenarnya bukan hanya soal perilaku konsumsi.
Ini juga soal solidaritas sosial.
Apakah ketika kita takut kekurangan, kita akan mengambil sebanyak mungkin untuk diri sendiri?
Atau kita tetap mengambil secukupnya karena tahu orang lain juga membutuhkan?
Kita sering merasa sedang menyelamatkan diri
Ada sisi psikologis yang menarik dari panic buying.
Orang yang mengisi BBM lebih banyak mungkin merasa sedang mengambil keputusan yang rasional.
Logikanya sederhana:
“Lebih baik punya sekarang daripada nanti tidak dapat.”
Masalahnya, kalau semua orang menggunakan logika yang sama, keputusan individual yang terlihat rasional dapat menghasilkan akibat kolektif yang justru tidak rasional.
Satu orang membeli lebih banyak mungkin tidak terasa.
Seratus orang juga mungkin belum terlalu terasa.
Tetapi ketika ribuan orang melakukan hal yang sama dalam waktu bersamaan, sistem distribusi dan pelayanan di SPBU menghadapi lonjakan permintaan yang tidak biasa.
Dan akhirnya semua orang mengalami antrean.
Inilah ironi panic buying:
kita membeli lebih banyak supaya tidak perlu panik, tetapi pembelian massal justru menciptakan kondisi yang membuat semua orang semakin panik.
Jember sebenarnya sedang belajar tentang kekuatan informasi
Menurut saya, ini jauh lebih penting daripada sekadar persoalan antrean BBM.
Jember sedang menunjukkan bahwa informasi bisa memengaruhi perilaku ekonomi masyarakat secara langsung.
Sebuah rumor harga.
Sebuah pesan berantai.
Sebuah video antrean.
Sebuah komentar di media sosial.
Semuanya bisa mengubah keputusan ribuan orang dalam waktu yang relatif singkat.
Karena itu, masyarakat perlu memiliki satu kebiasaan baru:
jangan langsung bertindak hanya karena mendengar kabar.
Periksa sumbernya.
Cari informasi resmi.
Bandingkan beberapa sumber.
Dan yang paling penting:
jangan ikut menyebarkan kepanikan sebelum mengetahui kebenarannya.
Pemerintah juga jangan hanya meminta masyarakat tenang
Kalimat “masyarakat diminta tetap tenang” memang mudah disampaikan.
Tetapi ketenangan masyarakat membutuhkan alasan.
Kalau pemerintah ingin masyarakat tidak panik, pemerintah harus mampu menjawab:
Berapa stok yang tersedia?
Apakah distribusi berjalan?
Di mana gangguannya?
Kapan pasokan berikutnya tiba?
Apakah ada jalur alternatif?
Apa yang harus dilakukan masyarakat?
Semakin jelas jawabannya, semakin kecil ruang bagi rumor.
Pemerintah Kabupaten Jember sendiri pada 8 September 2026 mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan atau panic buying.
Menurut saya, imbauan tersebut penting.
Tetapi komunikasi publik tidak boleh berhenti pada imbauan.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan ketenangan. Masyarakat membutuhkan kepastian informasi.
Jangan sampai kita menciptakan kelangkaan yang sebenarnya tidak ada
Pada akhirnya, persoalan BBM Jember memberikan pelajaran yang cukup sederhana.
Kelangkaan memang bisa terjadi karena produksi atau distribusi.
Tetapi persepsi tentang kelangkaan juga bisa menciptakan perilaku yang kemudian memperparah keadaan.
Kita takut BBM habis.
Kita membeli lebih banyak.
Orang lain melihat kita membeli lebih banyak.
Mereka ikut membeli.
Antrean semakin panjang.
SPBU semakin sibuk.
Foto antrean beredar.
Rumor semakin dipercaya.
Lalu semua orang berkata:
“Tuh, benar kan BBM langka.”
Padahal mungkin persoalannya sejak awal tidak sesederhana itu.
Dan di situlah kita perlu bercermin.
Jangan-jangan sebagian dari kelangkaan yang kita takutkan justru kita bantu ciptakan sendiri.
Bukan berarti pemerintah dan Pertamina boleh lepas tangan.
Tidak.
Distribusi harus diperbaiki.
Informasi harus transparan.
Gangguan harus diantisipasi.
Tetapi masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk tidak menjadikan rumor sebagai dasar keputusan massal.
Karena BBM bukan hanya soal apa yang tersedia di tangki.
BBM juga soal bagaimana masyarakat merespons ketika mendengar kabar bahwa sesuatu mungkin akan langka.
Dan kalau setiap rumor membuat kita berbondong-bondong membeli, maka pertanyaan yang lebih penting bukan lagi:
“Apakah BBM Jember benar-benar langka?”
Melainkan:
“Apakah kita sedang menghadapi kelangkaan BBM, atau sedang menghadapi kelangkaan ketenangan?”
----------
Referensi penulis:
Writer: Dari seorang warga yang biasa-biasa saja. DW.



Komentar0