Kabupaten Jember dikenal memiliki aktivitas ekonomi masyarakat yang cukup besar. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu bagian penting dalam menggerakkan perdagangan, konsumsi rumah tangga, jasa, hingga sektor ekonomi kreatif.
Namun, terdapat perbedaan angka jumlah UMKM Jember yang beredar di berbagai sumber. Berdasarkan Data UMKM Aplikasi Satu Data per 31 Desember 2025 yang dipublikasikan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan Kabupaten Jember, tercatat 293.788 unit UMKM dalam pendataan tersebut.
Lantas, bagaimana kondisi ekonomi Jember saat ini?
Berapa jumlah UMKM di Kabupaten Jember?
Data terbaru yang tersedia melalui laman resmi Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan Kabupaten Jember menunjukkan bahwa pendataan UMKM dilakukan melalui Aplikasi Satu Data.
Dalam data bertanggal 31 Desember 2025, tercatat sebanyak 293.788 unit usaha yang terdiri atas:
293.212 usaha mikro
481 usaha kecil
95 usaha menengah
Total: 293.788 UMKM
Data tersebut mencakup 31 kecamatan di Kabupaten Jember.
Dengan demikian, jika menggunakan basis pendataan Aplikasi Satu Data Kabupaten Jember per 31 Desember 2025, jumlah UMKM yang tercatat adalah 293.788 unit.
Dinas terkait juga menyediakan laporan data UMKM tahun 2024 dan 2025 melalui situs resminya.
Mengapa ada angka 647 ribu UMKM di Jember?
Masyarakat mungkin pernah menemukan informasi bahwa jumlah UMKM di Jember mencapai sekitar 647.000 UMKM.
Angka tersebut memang pernah digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Jember dan diberitakan sejumlah media. Misalnya, Pemkab Jember sebelumnya menyebut terdapat sekitar 647.000 UMKM di Kabupaten Jember.
Perbedaan angka tersebut perlu dipahami dengan hati-hati.
Angka 647.000 merupakan angka pendataan atau cakupan UMKM yang pernah digunakan dalam periode sebelumnya, termasuk pelaku usaha ultra mikro, mikro, kecil dan menengah, baik yang telah memiliki NIB maupun yang belum.
Sementara itu, 293.788 unit merupakan angka yang tercantum dalam dataset Aplikasi Satu Data per 31 Desember 2025.
Artinya, kedua angka tersebut tidak serta-merta dapat dibandingkan secara langsung sebagai kenaikan atau penurunan jumlah UMKM. Perbedaan metode pendataan, cakupan pelaku usaha, pemutakhiran data, dan definisi basis data dapat memengaruhi jumlah yang tercatat.
Karena itu, untuk menyebut data terbaru, angka 293.788 unit lebih tepat disebut sebagai jumlah UMKM yang tercatat dalam Aplikasi Satu Data Kabupaten Jember per 31 Desember 2025, bukan berarti seluruh pelaku usaha di Jember hanya berjumlah sebanyak itu.
Kecamatan dengan jumlah UMKM terbanyak
Data Aplikasi Satu Data juga menunjukkan persebaran UMKM di seluruh kecamatan di Kabupaten Jember.
Beberapa wilayah dengan jumlah unit usaha yang cukup besar antara lain:
| Kecamatan | Jumlah UMKM |
|---|---|
| Sumbersari | 20.863 |
| Kaliwates | 19.535 |
| Puger | 17.517 |
| Patrang | 15.253 |
| Ambulu | 13.491 |
| Bangsalsari | 13.249 |
| Balung | 12.813 |
| Wuluhan | 12.935 |
| Jenggawah | 11.839 |
| Rambipuji | 11.836 |
Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas usaha tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota Jember. Kecamatan-kecamatan di wilayah selatan maupun kawasan perkotaan sama-sama memiliki basis usaha masyarakat yang cukup besar.
Mayoritas UMKM Jember merupakan usaha mikro
Hal menarik dari data terbaru tersebut adalah dominasi usaha mikro.
Dari total 293.788 unit usaha, sebanyak 293.212 unit masuk kategori mikro. Sementara usaha kecil tercatat 481 unit dan usaha menengah sebanyak 95 unit.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa struktur ekonomi kerakyatan di Jember sangat bergantung pada usaha berskala mikro.
Usaha mikro biasanya memiliki karakteristik modal yang relatif terbatas dan dikelola langsung oleh pemilik. Bentuknya dapat berupa usaha kuliner, perdagangan, jasa, kerajinan, pertanian, pengolahan makanan, hingga berbagai usaha rumahan.
Besarnya jumlah usaha mikro juga menunjukkan peluang besar bagi pemerintah daerah untuk mendorong pelaku usaha agar naik kelas melalui legalitas, akses pembiayaan, peningkatan kualitas produk, digitalisasi pemasaran, dan perluasan pasar.
Bagaimana kondisi ekonomi Jember saat ini?
Jika melihat indikator makro terbaru, kondisi ekonomi Kabupaten Jember menunjukkan pertumbuhan yang positif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember, perekonomian Jember pada 2025 tumbuh sebesar 5,47 persen.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jember pada 2025 mencapai sekitar Rp110,98 triliun berdasarkan harga berlaku, sedangkan berdasarkan harga konstan 2010 mencapai Rp66,33 triliun.
Pertumbuhan ekonomi tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jember pada 2024 yang tercatat sebesar 4,86 persen. Pada 2024, PDRB Jember berdasarkan harga berlaku mencapai Rp102,76 triliun.
Dengan demikian, dari sisi pertumbuhan ekonomi, Jember menunjukkan perkembangan yang cukup baik.
Pertanian masih menjadi penopang utama ekonomi Jember
Meskipun aktivitas perdagangan, jasa, industri dan UMKM terus berkembang, sektor pertanian masih memiliki posisi penting dalam perekonomian Jember.
BPS mencatat bahwa Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyumbang 25,42 persen terhadap struktur PDRB Jember pada 2025.
Hal ini tidak terlepas dari karakteristik Jember sebagai salah satu daerah agribisnis penting di Jawa Timur.
Komoditas pertanian, perkebunan, serta berbagai produk olahan berbasis hasil pertanian juga dapat menjadi sumber bahan baku bagi UMKM.
Karena itu, hubungan antara sektor pertanian dan UMKM menjadi salah satu potensi ekonomi yang penting untuk dikembangkan.
Konsumsi masyarakat menjadi penggerak ekonomi
Selain sektor produksi, konsumsi rumah tangga juga mempunyai peranan besar dalam perekonomian Jember.
BPS mencatat bahwa pengeluaran konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi 69,11 persen terhadap PDRB Jember pada 2025.
Besarnya kontribusi konsumsi menunjukkan bahwa aktivitas belanja masyarakat menjadi salah satu motor penting perekonomian daerah.
Kondisi ini sekaligus memberikan peluang bagi pelaku UMKM karena semakin besar aktivitas konsumsi masyarakat, semakin besar pula potensi pasar untuk produk makanan, minuman, perdagangan, jasa, fesyen, kerajinan, dan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Investasi Jember juga menunjukkan potensi positif
Indikator lain yang menarik adalah investasi.
Pada triwulan I 2025, DPMPTSP Kabupaten Jember mencatat realisasi investasi non-UMK mencapai sekitar Rp1,7 triliun. Nilai tersebut bahkan telah melampaui target rencana strategis sebesar Rp1,2 triliun.
Investasi terbesar pada periode tersebut antara lain berasal dari sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran dengan nilai sekitar Rp1,2 triliun, kemudian industri farmasi sekitar Rp211 miliar dan industri makanan sekitar Rp118 miliar.
Masuknya investasi berpotensi memberikan efek lanjutan bagi ekonomi daerah, termasuk membuka pasar, lapangan kerja, rantai pasok dan peluang kemitraan bagi pelaku UMKM.
Tantangan UMKM Jember
Di balik besarnya potensi tersebut, UMKM Jember masih menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satunya adalah peningkatan legalitas dan kemampuan usaha untuk berkembang dari skala mikro menjadi usaha kecil atau menengah.
Digitalisasi juga menjadi tantangan sekaligus peluang. Pelaku UMKM yang mampu memanfaatkan marketplace, media sosial, Google, website, pembayaran digital, hingga pemasaran berbasis konten memiliki peluang menjangkau konsumen lebih luas.
Selain itu, kualitas kemasan, sertifikasi produk, pencatatan keuangan dan akses pembiayaan juga menjadi faktor penting agar UMKM mampu berkembang.
Program sertifikasi halal juga menjadi salah satu perhatian. Hingga 2025, sebanyak 66.712 UMKM di Jember dilaporkan telah memiliki sertifikat halal, berdasarkan data yang disampaikan Pemkab Jember melalui Diskopumdag.
Peluang ekonomi Jember ke depan
Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47 persen pada 2025, basis UMKM yang besar, sektor pertanian yang kuat, serta aktivitas investasi yang terus berjalan, Jember memiliki peluang ekonomi yang cukup besar.
Peluang tersebut dapat dikembangkan melalui beberapa sektor, seperti:
UMKM dan ekonomi kreatif
Agrobisnis dan agroindustri
Kuliner dan produk makanan olahan
Perdagangan dan jasa
Pariwisata
Industri pengolahan
Digitalisasi UMKM
Kemitraan UMKM dengan perusahaan dan investor
Kuncinya bukan hanya meningkatkan jumlah pelaku usaha, tetapi juga meningkatkan kualitas dan kapasitas usaha agar semakin banyak UMKM yang mampu naik kelas.
Kesimpulan
Jadi, berapa jumlah UMKM di Kabupaten Jember?
Berdasarkan Data UMKM Aplikasi Satu Data per 31 Desember 2025, terdapat 293.788 unit UMKM yang tercatat, terdiri dari 293.212 usaha mikro, 481 usaha kecil dan 95 usaha menengah.
Sementara itu, angka sekitar 647.000 UMKM yang selama ini banyak beredar merupakan angka pendataan dengan cakupan dan periode yang berbeda. Karena itu, angka tersebut tidak sebaiknya dibandingkan secara langsung dengan dataset terbaru tanpa melihat metode pendataannya.
Dari sisi ekonomi, kondisi Jember menunjukkan perkembangan positif. Ekonomi Jember tumbuh 5,47 persen pada 2025, dengan pertanian, kehutanan dan perikanan masih menjadi sektor terbesar dalam struktur ekonomi daerah. Konsumsi rumah tangga juga menjadi komponen utama penggerak ekonomi.
Dengan basis UMKM yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang positif, Jember memiliki peluang kuat untuk terus mengembangkan ekonomi kerakyatan, terutama melalui digitalisasi, peningkatan legalitas, akses pembiayaan, penguatan produk lokal dan perluasan pasar.
Baca juga: perkembangan UMKM, peluang usaha, investasi dan kondisi ekonomi Kabupaten Jember hanya di JemberTerkini.id.


