![]() |
| (Foto: Istimewa) |
JEMBER TERKINI – Kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional semakin menguat setelah nilai tukar Rupiah disebut terus melemah hingga mencapai Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Sabtu, 13 Juni 2026. Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dikabarkan turun ke level 6.000-an dengan mayoritas saham berada di zona merah.
Situasi tersebut memicu berbagai reaksi di sejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Selain aksi demonstrasi yang dilakukan berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa, ekspresi kekecewaan publik juga muncul melalui grafiti yang tersebar di sejumlah titik strategis.
Berdasarkan pantauan redaksi Massa, grafiti bertuliskan “Turunkan Harga Kami Lapar” terlihat di beberapa lokasi, di antaranya kawasan Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Ikan Paus di Kecamatan Kaliwates, Jember.
Tulisan tersebut dinilai menjadi simbol keresahan masyarakat terhadap meningkatnya biaya hidup yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, serta berbagai kebutuhan harian menjadi persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pelemahan Rupiah dan Dampaknya ke Masyarakat
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku yang selama ini masih menjadi bagian penting dalam rantai industri nasional. Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga barang konsumsi dan mempercepat laju inflasi domestik.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha besar atau masyarakat yang memiliki aktivitas internasional. Struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada impor membuat efek pelemahan Rupiah dapat menjalar hingga ke tingkat rumah tangga dan masyarakat pedesaan.
Sejumlah pengamat ekonomi menilai bahwa tekanan terhadap nilai tukar berpotensi memengaruhi harga berbagai kebutuhan pokok, mulai dari pangan hingga produk manufaktur yang menggunakan bahan baku impor.
Harga BBM Jadi Sorotan
Di tengah tekanan ekonomi, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga menjadi perhatian masyarakat. Kenaikan harga BBM dinilai dapat memicu efek berantai terhadap biaya transportasi dan distribusi barang.
Ketika ongkos logistik meningkat, harga barang di tingkat konsumen berpotensi ikut mengalami kenaikan. Kondisi tersebut dapat memperlemah daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah dan pekerja sektor informal.
Kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah dinilai menjadi pihak yang paling rentan menghadapi situasi tersebut. Mereka harus menyesuaikan pengeluaran rumah tangga di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.
Gelombang Kritik dan Protes Masyarakat
Tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat turut memicu berbagai bentuk kritik terhadap pemerintah. Selain demonstrasi yang berlangsung di sejumlah daerah, kritik juga ramai disampaikan melalui media sosial.
Berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, aktivis, akademisi hingga pengamat ekonomi, menyuarakan pandangan mereka terkait kebijakan ekonomi yang dinilai belum mampu meredam tekanan terhadap masyarakat.
Di Jember, kemunculan grafiti menjadi salah satu bentuk ekspresi publik yang menarik perhatian. Narasi “Turunkan Harga Kami Lapar” menggambarkan tuntutan masyarakat agar pemerintah memberikan solusi terhadap kenaikan biaya hidup yang terus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ancaman terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Jika tekanan terhadap nilai tukar, inflasi, dan daya beli masyarakat terus berlanjut, pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi menghadapi tantangan yang lebih besar.
Ekonom menilai konsumsi rumah tangga merupakan salah satu motor utama perekonomian Indonesia. Ketika daya beli masyarakat melemah, aktivitas konsumsi dapat melambat dan berdampak pada kinerja berbagai sektor usaha.
Kondisi tersebut menciptakan efek berantai yang saling berkaitan antara pelemahan kurs, kenaikan inflasi, dan penurunan konsumsi masyarakat.
Isu Tata Kelola dan Kepercayaan Publik
Selain persoalan ekonomi, berbagai isu yang berkaitan dengan tata kelola pemerintahan dan dugaan kasus korupsi juga menjadi sorotan publik. Isu-isu tersebut turut memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap upaya pemerintah dalam menangani tantangan ekonomi.
Namun demikian, informasi terkait dugaan tindak pidana korupsi maupun penangkapan pejabat negara perlu dipastikan melalui pernyataan resmi dari aparat penegak hukum dan lembaga terkait agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat.
Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi, masyarakat berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga, memperkuat nilai tukar Rupiah, serta melindungi daya beli masyarakat agar kondisi ekonomi nasional dapat kembali membaik.***


.jpeg)

