![]() |
| Happy Salma Soroti Kekuatan Perempuan di Film Mothers Are Mothering. /Dok. Ist |
JEMBER TERKINI - Happy Salma menyampaikan apresiasi besar terhadap film pendek terbaru berjudul Mothers Are Mothering. Ia menilai film tersebut menawarkan sudut pandang baru mengenai sosok perempuan yang tidak selalu digambarkan sebagai pihak yang lemah atau korban.
Dalam konferensi pers Next Step Studio Indonesia di Institut Français Indonesia, Selasa (5/5), Happy mengaku tertarik dengan karakter yang diperankannya karena memiliki lapisan emosi dan kompleksitas yang berbeda dari peran-peran sebelumnya.
Menurutnya, selama beberapa tahun terakhir ia kerap memainkan tokoh perempuan yang hidup dalam penderitaan. Namun di film ini, karakter perempuan justru tampil dengan dimensi yang lebih kuat dan unik, termasuk kemungkinan memilih menjadi “korban” atas keputusan dirinya sendiri. Hal itu, kata Happy, memperlihatkan sisi lain dari kekuatan perempuan.
Happy juga mengungkapkan bahwa proses produksi berlangsung menyenangkan berkat arahan sutradara yang terstruktur, tetapi tetap memberi ruang eksplorasi kepada para aktor. Ia merasa para pembuat film sudah memiliki konsep yang jelas di setiap adegan, namun tetap membuka kesempatan bagi pemain untuk menambahkan interpretasi mereka sendiri terhadap karakter.
Dalam proyek tersebut, Happy beradu akting dengan Asmara Abigail. Ia menyebut kerja sama mereka sebagai pengalaman kreatif yang penuh kebebasan dan eksplorasi artistik.
Lebih dari sekadar film, Happy menilai proyek ini menjadi bentuk kolaborasi penting antar sineas Asia Tenggara. Ia menyebutnya sebagai jalinan “silaturahmi sinema” yang dapat membawa karya lokal menuju perhatian internasional.
Film Mothers Are Mothering sendiri merupakan bagian dari program Next Step Studio Indonesia dan dijadwalkan tayang perdana di program La Semaine de la Critique dalam Festival Film Cannes.
Film ini disutradarai oleh Khozy Rizal bersama Lam Li Shuen, serta dibintangi oleh Happy Salma dan Asmara Abigail. Selain film tersebut, program ini juga menghadirkan karya lain seperti Holy Crowd, Original Wound, dan Annisa.
Program Next Step Studio Indonesia bertujuan mempertemukan sineas Indonesia dengan pembuat film Asia Tenggara untuk menghasilkan karya berstandar internasional. Happy pun optimistis proyek ini dapat menjadi representasi wajah perfilman Indonesia di mata dunia.


